Senin, 19 Desember 2011

Cara Reset Printer Epson Stylus Photo R230 di Linux (BlankOn)

Printer Epson Stylus Photo R230 termasuk printer yang sering saya gunakan. Ya karena memang printer itu yang disediakan oleh bos saya untuk keperluan mencetak foto. Ketika bos membeli printer baru, beliau tidak membelikan printer dengan merk dan tipe yang baru. Ehtahlah, apakah printer ini dapat dibilang unik atau tidak. Tetapi printer ini memiliki masalah yang spesifik, yaitu terkadang terjadi blink/blank/(atau apa pun itu) yang intinya printer tidak dapat merespon, tidak dapat untuk mencetak yang ditandai dengan kedua lampu merahnya menyala secara bergantian atau bersamaan. Ketika saya menggunakan windows ekspi, saya harus melakukan reset pada printer dengan bantuan software khusus yang dapat dengan mudah didapatkan dengan googling. Tidak percaya? Coba klik ini, ini atau ini. Di situ juga dijelaskan bagaimana cara meresetnya. Sangat ribet bukan? Software tersebut bukan buatan dari vendor, namun merupakan buatan pihak ketiga.

Ok, saya tidak akan menjelaskan panjang kali lebar, alas kali tinggi tentang windows di sini. Dan karena saya sekarang menggunakan BlankOn sebagai OS utama dan satu-satunya di mesin yang saya gunakan untuk bekerja sekarang yang akan saya bahas adalah penyelesaian ketika masalah yang sama terjadi dengan printer Epson Stylus Photo R230 saya.

Hingga saat ini, printer tersebut termasuk printer yang sangat bersahabat dengan Linux. Istilahnya 'plug and play' sekali dicolokkan di BlankOn, kita langsung dapat menggunakannya untuk mencetak. Printer ini menggunakan driver dari CUPS (Common Unix Printing System) yang kebanyakan distro telah terinstall secara default.

Suatu ketika saya melakukan cetak dokumen, tiba-tiba printer saya "kumat". Dua lampunya berkedip-kedip merah. Secara spontan dan refleks saya mencoba mengetikkan perintah berikut di terminal (karena sudah terbiasa melakukan restart service apache "$ sudo /etc/init.d/apache2 restart") :

$ sudo /etc/init.d/cups restart

Lalu printer saya matikan dan nyalakan lagi. Viollaa... printer Epson Stylus Photo R230 saya kini sembuh seperti sedia kala (tidak berkedip-kedip lagi). Printer lalu melakukan head cleaning dengan sendirinya.

[gambar : Gambar-Layar-Printer Properties - 'Stylus-Photo-R230' on localhost]


Karena merasa belum yakin dengan hasil head cleaning otomatis, saya coba dengan langkah berikut : Sistem > Administrasi > Mencetak (Printing), lalu klik kanan pada printer > pilih Properti > klik tombol "Bersihkan Head Cetak", lalu tunggu beberapa saat. Untuk melihat/menguji hasilnya, klik tombol "Cetak Halaman Uji-sendiri", periksa apakah warnanya sudah lengkap? ulangi langkah tadi hingga warnanya lengkap.

Mohon perhatikan :
Langkah ini dapat berhasil Anda praktekkan hanya jika printer Anda juga menggunakan driver dari cups. Saya menggunaka BlankOn yang antarmuka penggunanya telah menggunakan Bahasa Indonesia, jadi mungkin nama-nama tombol dan menunya agak berbeda jika Anda menggunakan bahasa selain Bahasa Indonesia. :D

Jumat, 16 Desember 2011

Mengatasi NTFS Error dengan LiveUSB BlankOn

Satu permasalahan kali ini adalah di laptop teman Acer Aspire One 522 warna hitam. Kenapa selalu 'laptop teman'? Jawabannya karena saya sendiri tidak/belum memiliki laptop sendiri :D (berharap saja suatu saat akan punya sendiri, tapi jangan berharap akan punya masalah :P). Kondisi laptop telah terinstall windows 7 (bawaan laptop setelah diservice) dan Linux Sabily Al-Quds 10.10.

Saat saya cek partisi hddnya di terminal dengan perintah berikut "sudo fdisk -l" (tanpa tanda kutip), muncul pesan error seperti berikut :

..........
$MFTMirr does not match $MFT (record 0).
Failed to mount '/dev/sda8': Input/output error
NTFS is either inconsistent, or there is a hardware fault, or it's a
SoftRAID/FakeRAID hardware. In the first case run chkdsk /f on Windows
then reboot into Windows twice. The usage of the /f parameter is very
important! If the device is a SoftRAID/FakeRAID then first activate
it and mount a different device under the /dev/mapper/ directory, (e.g.
/dev/mapper/nvidia_eahaabcc1). Please see the 'dmraid' documentation
for more details.
Terdapat masalah pada partisi /dev/sda8 yang formatnya NTFS. Kemudian saya coba untuk mount partisi tersebut pada tempatnya, sayangnya pesan error yang sama muncul. Dari pesan error tersebut disarankan untuk masuk ke sistem windows lalu jalankan perintah "chkdsk /f" di command prompt kemudian restart komputer ke windows dua kali. Namun masalahnya, laptopnya sudah tidak bisa booting  ke windows lagi. 


Yep, itu tadi penampakannya ketika saya jalankan melalui liveUSB BlankOn. Pesan errornya tak jauh berbeda dengan ketika dimount dengan CLI. 

Oh, iya kronologinya begini. Karena windowsnya sudah tidak waras (tidak mau masuk ke windows), pemilik laptop berniat akan menghapus/memformat partisi sistem windowsnya. Sebelumnya data-data penting dalam partisi tersebut dipindahkan ke partisi lain yang sama-sama formatnya ntfs. Nah, pada saat proses pemindahan data sebesar 32 Gb tersebut sistem mengalami freeze. Mungkin karena terlalu berat dengan sistem Sabily disamping clockspeed laptop hanya 1.0 Ghz. Dalam kondisi seperti itu, pemilik laptop nampaknya tidak sabar dan akhirnya mematikan laptopnya secara paksa dengan menekan tombol power beberapa menit. Akibatnya, ya itu tadi.....

Saya mencoba tanya-tanya ke mbah google (link lengkap ada di bawah) dan menemukan banyak sekali cara pemecahan masalahnya. Salah satu di antaranya menyebutkan saya harus menginstall paket aplikasi 'ntfsprogs' :

$ sudo apt-get install ntfsprogs

Eh, ternyata paket ini telah terinstall secara default di LiveUSB BlankOn Ombilin, jadi tinggal "rock 'n roll". Lalu jalankan perintah berikut untuk memerbaiki partisinya :

$ sudo ntfsfix /dev/sda8

Tak diduga, semuanya berjalan lancar dan semuanya kembali  seperti sedia kala (sayangnya log/output dari perintah tersebut lupa saya simpan, yang saya ingat tiap baris eksekusi menunjukkan kata "Succesfully"). Padahal pada tutorial yang saya ikuti, mereka gagal. Pada intinya : jangan takut mencoba.

Ini hanyalah pengalaman saya, saya tidak menjamin hal ini juga akan berhasil mengatasi permasalah Anda jika ternyata Anda juga memiliki permasalah yang sama (tergantung tingkat kerusakan partisi/hardware). Dan sebaiknya Anda baca ini juga.

Sumber daya :

Minggu, 04 Desember 2011

Safari Linux Banyumas

Agak bingung menentukan judul, namun karena bentuknya sebuah cerita perjalanan judul yang disarankan oleh pak Ahmad Fauzi seperti yang sudah tertulis. Tulisan ini hanya berupa cerita perjalan kami, jika bagi Anda waktu sangat berharga dan merasa tidak perlu membaca tulisan ini, Anda tidak harus.!

- Menuju rumah pak Adnan
Perjalanan ini memang tidak direncanakan jauh-jauh hari. Dan terkesan dadakan. Kang Akbar Bahaulloh berencana untuk mengunjungi adiknya di kroya, dan beliau berinisiatif untuk mengajak  saya dan mampir di rumah pak Adnan Kurniawan (Ketua KPLI Banyumas) sekedar untuk silaturrahmi sekaligus konfirmasi bahwa beliau benar-benar ingin menjadi anggota KPLI Banyumas (dan pada intinya untuk "merampok" repository openSUSE). Kang Bahaulloh sampai di 'kandang' saya sekitar pukul 09:00 pagi, kami ngobrol sebentar dan setelah melakukan beberapa persiapan lalu kami berangkat sekitar  pukul 09:30 dengan bersenjata lengkap (padahal cuma helm).
Perjalanan dengan kendaraan bermotor memang memiliki sensasi tersendiri pada setiap 'perjalanan', apalagi bagi saya yang notabene tak pernah ke mana-mana. Kepala yeng-yengan pun mulai terasa ketika belum separuh pun perjalanan ditempuh. Sensasi lain yang saya alami ketika kami berhenti lampu merah di perempatan, eh pertigaan, seseorang yang saya kira polisi menyolek saya dari belakang ternyata adalah seseorang dengan kendaraan motor berkerombong (mungkin pedagang) memberitahukan kepada saya bahwa ban belakang motor yang kami kendarai ternyata kempes :( Karena masih belum benar-benar terasa efeknya dan bengkel sepeda motor atau setidanya tempat untuk memompa ban motor masih belum nampak kami terpaksa tetap melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 12:00 siang, dan kebetulah hari itu adalah hari Jum'at kami menyempatan diri untuk singgah sebentar di masjid terdekat.
Selesai sholat Jum'at, perjalanan kami lanjutan. Namun karena perut sudah mulai 'keroncongan' dan sejak pagi memang belum sarapan, sambil melanjutkan perjalanan melirik kanan-kiri mencari warung nasi. Rumah-rumah penduduk yang rapat tak menyulitkan kami untuk mencari tempat untuk mengisi perut. Tak jauh dari masjid, kami akhirnya menemukan salah satunya yang dirasa cocok. Kata kuncinya adalah 'jangan mie-miean, dan yang penting ada nasi dan sayur' :D
Kami berdua yang jarang pergi ke mana-mana merasa kebingungan karena tidak tau jalan mana yang harus ditempuh, lalu kami tanyakan kepada pemilik warung. Tanpa ragu kemudian kami lanjutkan perjalanan yang ternyata berlawanan arah dengan jalan yang sebelumnya kami lewati. Entah berapa puluh kali kami bertanya kepada orang-orang di setiap perjalanan kami, hingga ketika kami sudah merasa cukup dekat kang Baha menelpon pak Adnan.... lalu bukan sulap, bukan sihir... akhirnya kami sampai di tempat tujuan pertama..

- Di rumah pak Adnan
Setelah sampai di rumah beliau, kami disambut oleh Arum Kurniawan, istri pak Adnan Kurniawan kami pun dipersilahkan duduk dan menunggu (ternyata pak Adnan sedang keluar memenuhi panggilan pelanggan Hostpot beliau yang  komplain kabel USBnya putus). Satu hal yang membuat kami terkesan ketika di rumah beliau, nampak sebuah sticker kecil menempel di jendela depan bergambar logo windows yang disilang merah dan bertuliskan "KAWASAN BEBAS WINDOWS". Kami pun tak dapat menahan gelak tawa cekikikan dalam hati. :D
Tak kurang dari 10 menit kami menunggu pak Adnan pun menampakkan dirinya. Tak lupa kami mengutarakan tujuan kedatangan kami. Pak Adnan lalu menceritakan pengalamannya menggunakan Linux yaitu delapan tahun lalu ketika masih suka gonta-ganti distro. Hingga sekarang beliau masih setia menggunakan openSUSE yang dulu namanya suse linux.
Pesan pak Adnan kepada kami di antaranya adalah agar kami mempelajari salah satu distro linux saja hingga benar-benar "mumpuni", dan masih banyak hal yang lainnya (yang saya sendiri bingung menuliskannya di sini) termasuk siapa-siapa saja yang pernah datang ke rumah beliau yang kebanyakan adalah penggiat Linux dan Open Source.
Setelah kami dapatkan apa yang kami 'cari', lalu kami melanjutkan perjalanan.

- Menuju rumah Tommy
Perjalanan kami lanjutkan ke Kroya, mengunjungi adiknya kang Baha yang kini sedang nyantri di sana. Sampai di Kroya kami telah basah kuyup diguyur hujan selama perjalanan. Kami sempatkan sholat Ashar di masjid tempat kami mampir tak jauh dari Asrama putri. Tak ada yang perlu saya ceritakan peristiwa di sana.
Perjalanan kami lanjutkan ke Cilongok, ke rumah kang Tommy Destryanto. Seperti orang hilang, dalam perjalanan saya yang tak tau jalan dan kang Baha yang ternyata tak jauh berbeda dengan saya. Tak terhitung entah berapa ratus kali kami kirim sms ke kang Tommy, bertanya jalan mana yang perlu kami tempuh. Mungkin intensitasnya sudah 'cukup mengganggu'. Tapi untungnya intensitas hujan tak cukup mengganggu.
Oleh kang Tommy kami diminta untuk tidak langsung ke Cilongok, tapi ke Karanglewas. Yep, kami sampai di Karanglewas pada pukul 19:00 meleset sedikit. Kami pun dijemput oleh kang Tommy di depan Alfamart Karanglewas yang lama.
Tak kami duga kang Tommy tak langsung membawa kami ke rumahnya, melainkan ke rumah makan.

- Di rumah Tommy
Tujuan kami datang sebenarnya tak jauh berbeda dengan ketika kami mengunjungi pak Adnan : "merampok" repository. Bedanya adalah yang 'dirampok' dari pak Adnan adalah repository openSUSE, sedangkan yang dari kan Tommy adalah 5 iso DVD GamePack ubuntu. Dulu kang Tommy memang sempat bekerja di sebuah ISP di Jakarta, pada saat itu saya sempat request didownloadkan 5 DVD gamepack tersebut. Ya, namanya juga ISP (Internet Service Provider) yang punya koneksi 'dewa' kang Tommy hanya memerlukan beberapa jam saja untuk mendownload file yang totalnya tak kurang dari 20Gb tersebut.
Malam sudah cukup larut, kami yang tak hapal jalan tak berani pulang pun memutuskan untuk menginap. Untungnya kang Tommy tidak keberatan kami menginap. Singkat cerita karena mungkin sudah kecanduan internet, kami mencoba modem yang kami bawa yaitu modem AirFlash. Eh, ternyata sinyalnya lupa dibawa. One more thing, kami datang dengan membawa hdd untuk copy data yang sudah saya sebutkan tadi. Eh, lagi-lagi eh, ternyata ada trouble pada komputer kang Tommy hingga akhirnya kami malah disuruh membawa hardisk 500 Gb milik beliau. Wah, jadi hutang untuk mengembalikannya nih. Sebelumnya ketika di tempat pak Adnan juga temanku kesengsem dengan DVD Installer Game untuk Linux milik pak Adnan untuk dipinjam. Awalnya cuma pengin dicopy, tapi oleh pemiliknya malah diperbolehkan dibawa sekalian disamping karena memang peralatan kurang memadai. Yep, jadi punya 'hutang' untuk mengembalikan.

- Pulang
Kami pun pulang pada pagi harinya. Melalui jalan yang sebelumnya kami lewati, mampir ke Kroya, lalu pulang. Kroya? ya, karena sebelumnya kami tidak bertemu dengan adik kang Baha.
Tak lupa kami mampir ke rumah pak Ahmad Fauzi, salah satu pengguna Linux Ubuntu di Sidareja. Kami ceritakan perjalan kami pada beliau, beliau juga yang mengusulkan judul postingan ini.

Berikut ini resource untuk download/pesan DVD gamepack Ubuntu 11.04 :